ANTM Jadi Bintang Baru BUMN, Kinerja Labanya Melejit Lampaui Perbankan
Kamis, 6 November 2025, Jakarta – Musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga (Q3) 2025 di panggung Bursa Efek Indonesia selalu menjadi momen yang ditunggu. Ini adalah saat di mana angka-angka membuka tabir, memisahkan narasi dari realita. Dan untuk emiten-emiten berpelat merah, musim kali ini menyajikan sebuah drama yang sangat menarik: sebuah uji tanding laba emiten BUMN yang menunjukkan kisah dua dunia yang kontras.
Di satu sudut, ada sang juara dari sektor komoditas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang berhasil mencatatkan cuan atau laba bersih yang lompat secara impresif, melampaui ekspektasi pasar. Kilau emas dan nikel seolah terpancar langsung ke bottom line perseroan.
Namun di sudut lain, para raksasa dari sektor perbankan—dipimpin oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) beserta kawan-kawannya (CS)—justru terlihat mulai melambat. Mereka tidak merugi, jauh dari itu. Namun, akselerasi pertumbuhan laba yang selama ini menjadi andalan, kini tampak mengambil napas.
Divergensi kinerja yang tajam antara sektor tambang dan keuangan ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah cerminan dari kondisi makroekonomi global dan domestik yang sedang berada di persimpangan jalan, mengirimkan sinyal penting bagi para investor tentang ke mana arah angin bertiup.
Sang Bintang Panggung: Ledakan Laba Antam (ANTM)
Kinerja cemerlang yang disajikan oleh ANTM di Q3 2025 adalah buah dari kombinasi sempurna antara faktor eksternal dan eksekusi internal yang solid.
- Durian Runtuh Harga Komoditas: Geopolitik global yang masih belum menentu dan permintaan yang kuat untuk material baterai kendaraan listrik (EV) telah menjaga harga emas dan nikel—dua komoditas andalan ANTM—tetap bertengger di level yang sangat menguntungkan. ANTM berhasil menunggangi gelombang harga tinggi ini dengan sangat baik.
- Mesin Hilirisasi Mulai Panas: Inilah faktor pembedanya. Laba ANTM bukan lagi sekadar hasil menjual bahan mentah. Investasi besar-besaran dalam proyek hilirisasi, seperti fasilitas feronikel dan pabrik katoda baterai yang mulai beroperasi efisien, kini membuahkan hasil. Margin keuntungan dari produk bernilai tambah ini jauh lebih tebal dibandingkan sekadar menjual bijih nikel. Ini adalah bukti nyata bahwa strategi hilirisasi yang digalakkan pemerintah mulai berdampak signifikan pada profitabilitas BUMN.
- Efisiensi Operasional: Di tengah momentum positif, manajemen ANTM juga berhasil menjaga biaya produksi tetap terkendali. Peningkatan volume produksi yang diiringi dengan efisiensi biaya menciptakan efek pengganda pada laba bersih perseroan.
Bagi investor, lonjakan laba ini adalah musik yang merdu. Ini mengkonfirmasi narasi bahwa ANTM bukan lagi sekadar saham komoditas yang siklikal, melainkan sedang bertransformasi menjadi pemain industri logam dan mineral terintegrasi yang lebih stabil.
Para Raksasa Mengambil Napas: Perbankan Melambat
Berbanding terbalik dengan ANTM, sektor perbankan BUMN seperti BMRI, BBRI, dan BBNI menghadapi tantangan yang berbeda. Perlambatan pertumbuhan laba mereka adalah konsekuensi logis dari kebijakan moneter yang ketat.
- NIM Tergerus Suku Bunga Tinggi: Untuk menjaga stabilitas Rupiah dan mengendalikan inflasi, Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga acuan di level yang relatif tinggi. Ini adalah pisau bermata dua bagi perbankan. Di satu sisi, pendapatan bunga dari kredit naik. Di sisi lain, biaya dana (cost of fund)—bunga yang harus mereka bayar kepada nasabah deposan—naik lebih cepat. Selisih inilah yang disebut Net Interest Margin (NIM), dan ketika NIM mulai tergerus, mesin utama profitabilitas bank pun melambat.
- Peningkatan Pencadangan (CKPN): Di tengah ketidakpastian ekonomi, bank-bank besar cenderung lebih konservatif. Mereka meningkatkan alokasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebagai langkah antisipasi jika ada potensi kenaikan kredit macet (NPL) di masa depan. Peningkatan pencadangan ini secara langsung akan mengurangi laba bersih yang dilaporkan.
- Normalisasi Pertumbuhan Kredit: Setelah periode pertumbuhan kredit yang sangat kencang pasca-pandemi, kini pertumbuhannya mulai memasuki fase normalisasi. Bank-bank menjadi lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman, fokus pada kualitas aset ketimbang kuantitas.
Penting untuk dicatat, “melambat” bukan berarti “memburuk”. Fondasi perbankan BUMN kita masih sangat kokoh dengan permodalan (CAR) yang tebal dan likuiditas yang terjaga. Ini adalah sebuah fase konsolidasi yang wajar dalam sebuah siklus ekonomi.
Apa Artinya Ini bagi Perekonomian dan Investor?
Kisah dua dunia di antara emiten BUMN ini memberikan beberapa pesan penting:
- Ekonomi Dua Kecepatan: Perekonomian Indonesia sedang berjalan dalam dua kecepatan. Sektor eksternal yang ditopang komoditas masih berlari kencang, sementara sektor domestik yang sensitif terhadap suku bunga mulai mengerem.
- Hilirisasi Bukan Lagi Jargon: Kinerja ANTM membuktikan bahwa hilirisasi adalah strategi yang valid dan mampu menciptakan nilai tambah yang nyata. Ini menjadi preseden positif bagi BUMN tambang lainnya seperti MIND ID dan PT Timah.
- Selektivitas adalah Kunci: Bagi investor, era “beli semua saham BUMN” mungkin sudah lewat. Kini, investor dituntut untuk lebih cerdas dalam memilah sektor mana yang sedang diuntungkan oleh kondisi makroekonomi, dan mana yang sedang menghadapi tantangan.
Prospek ke Depan: Ke depan, pertanyaan besar bagi ANTM adalah: seberapa berkelanjutan momentum ini? Ketergantungan pada harga komoditas global tetap menjadi risiko. Namun, jika mesin hilirisasi terus berjalan, ANTM memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi volatilitas.
Bagi BMRI & CS, prospeknya sangat bergantung pada arah kebijakan BI. Jika inflasi mulai melandai dan BI mulai memberikan sinyal pelonggaran suku bunga di tahun 2026, maka NIM perbankan akan kembali bernapas lega dan akselerasi pertumbuhan laba bisa kembali terjadi.
Kesimpulan Uji tanding laba emiten BUMN di Q3 2025 telah menunjukkan dengan jelas siapa yang sedang menjadi primadona dan siapa yang sedang beradaptasi. ANTM dengan strategi hilirisasinya berhasil melompat tinggi di tengah badai suku bunga, sementara raksasa perbankan menunjukkan resiliensi dengan sedikit melambatkan langkah.
Bagi para pemegang saham dan calon investor, laporan keuangan ini adalah kompas. Ia menunjukkan bahwa di dalam satu gerbong besar bernama BUMN, ada lokomotif-lokomotif berbeda yang berjalan dengan kecepatan yang tak sama, menuntut kecermatan dalam memilih di gerbong mana kita akan menaruh investasi.