Diterpa Empat Badai Krisis, Ini Rahasia ‘DNA Tahan Banting’ Ekonomi Indonesia
Jakarta – Di tengah tantangan fiskal yang kian menekan dan bayang-bayang perlambatan ekonomi global yang belum sepenuhnya sirna di penghujung tahun 2025 ini, sangat mudah bagi kita untuk terjerumus dalam pesimisme. Setiap data inflasi yang sedikit meleset atau realisasi investasi yang belum mencapai target, seringkali disambut dengan kecemasan.
Namun, jika kita mau mundur sejenak dan melihat gambaran yang lebih besar, sejarah ekonomi Indonesia modern adalah sebuah epik yang luar biasa. Ini adalah sebuah narasi tentang perjalanan dari krisis ke krisis. Sebuah cerita tentang bangsa yang berulang kali terlempar ke jurang, namun selalu menemukan cara untuk merangkak naik, seringkali lebih kuat dari sebelumnya.
Selama empat dekade terakhir—kira-kira sejak pertengahan 1980-an—Indonesia telah membuktikan satu hal di atas segalanya: ekonomi kita luar biasa “tahan banting”.
Resiliensi ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia ditempa oleh serangkaian guncangan hebat yang memaksa negara ini untuk beradaptasi, berbenah, dan berevolusi. Mari kita telusuri empat dekade perjalanan tersebut, dari satu krisis ke krisis berikutnya, untuk memahami di mana letak “DNA” ketahanan kita yang sesungguhnya.
Guncangan Pertama: Jatuhnya Harga Minyak (Pertengahan 1980-an)
Banyak yang lupa, sebelum menjadi raksasa manufaktur dan digital, Indonesia adalah negara yang sangat bergantung pada “emas hitam”. Sebagai anggota OPEC, APBN kita di awal 1980-an dimanjakan oleh harga minyak yang melambung tinggi.
- Krisis: Pada pertengahan 1980-an, harga minyak dunia anjlok drastis (oil glut). Penerimaan negara ambruk, dan ekonomi yang terbiasa “nyaman” ini terancam lumpuh.
- Respon & Resiliensi: Di sinilah ketahanan banting pertama kita teruji. Pemerintah di era Orde Baru mengambil langkah yang sangat berani dan tidak populer: deregulasi. Serangkaian “Paket Kebijakan” (PAKTO, PAKDES, dll) diluncurkan untuk memutar haluan kapal ekonomi. Fokus digeser dari ketergantungan pada migas ke industrialisasi dan ekspor manufaktur.
- Pelajaran: Ini adalah bukti pertama bahwa Indonesia mampu melakukan pivot strategis yang menyakitkan ketika terdesak. Kita belajar untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Tsunami Finansial: Krisis Moneter Asia (1997-1998)
Inilah “ibu dari segala krisis” di Indonesia. Sebuah ujian yang nyaris meruntuhkan negara ini hingga ke fondasinya.
- Krisis: Dimulai dari krisis mata uang Baht di Thailand, “penyakit” ini menular dengan cepat. Sektor swasta yang sarat utang luar negeri dalam dolar AS, perbankan yang rapuh, dan “crony capitalism” membuat Indonesia menjadi korban terparah. Nilai tukar Rupiah terjun bebas dari Rp 2.500 ke level terendah nyaris Rp 17.000 per dolar. Inflasi meroket. Perbankan kolaps. Kerusuhan sosial dan transisi politik pun tak terhindarkan.
- Respon & Resiliensi: Dalam kondisi nyaris bangkrut, Indonesia terpaksa “menelan pil pahit” dari IMF. Puluhan bank ditutup dan direkapitalisasi melalui BPPN, sebuah proses yang memakan biaya luar biasa besar. Namun, di balik trauma itu, lahir reformasi fundamental: Bank Indonesia menjadi independen, OJK (saat itu Bapepam-LK) diperkuat, dan tata kelola perbankan dirombak total.
- Pelajaran: Krisis 1998 mengajarkan kita pelajaran termahal tentang pentingnya fondasi perbankan yang sehat dan stabilitas politik. Kita membuktikan diri mampu selamat dari skenario terburuk sekalipun.
Ujian Kedewasaan: Krisis Finansial Global (2008-2009)
Satu dekade setelah luluh lantak, dunia kembali diguncang. Lehman Brothers di AS bangkrut, memicu krisis keuangan global terparah sejak Great Depression. Negara-negara maju rontok.
- Krisis: Pasar keuangan global membeku. Ekspor ke negara-negara Barat anjlok.
- Respon & Resiliensi: Ajaibnya, Indonesia justru “nyaris tidak tergores”. Saat negara lain mencatatkan pertumbuhan negatif, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh positif 4,6%. Apa rahasianya?
- Pertama, pelajaran dari tahun 1998. Perbankan kita kini jauh lebih sehat, tidak terlalu terekspos pada instrumen toxic dari luar negeri.
- Kedua, dan ini yang terpenting, kita menemukan “mesin” baru: konsumsi domestik. Dengan populasi 240 juta jiwa saat itu, pasar dalam negeri kita terlalu besar untuk bisa digoyahkan hanya oleh krisis di luar.
- Pelajaran: Krisis 2008 mengukuhkan status Indonesia sebagai negara yang ditopang oleh kekuatan domestiknya sendiri. Resiliensi kita bergeser dari sekadar “bertahan” menjadi “stabil mandiri”.
Ujian yang Tak Terduga: Pandemi COVID-19 (2020-2022)
Ini adalah krisis yang berbeda. Musuhnya bukan finansial, melainkan biologis. Seluruh dunia “mengunci diri”, rantai pasok global putus, dan mesin konsumsi domestik yang kita banggakan terpaksa berhenti.
- Krisis: Ekonomi Indonesia untuk pertama kalinya sejak 1998 mengalami kontraksi. Mobilitas terhenti. Jutaan orang kehilangan pekerjaan formal.
- Respon & Resiliensi: Di sinilah DNA tahan banting kita kembali muncul dalam bentuk baru.
- Adaptasi Digital: Terjadi akselerasi digital paksa. UMKM yang tadinya offline berbondong-bondong pindah ke marketplace.
- Fleksibilitas Sektor Informal: Sektor informal (warung, ojek, pedagang kaki lima) yang menjadi ciri khas ekonomi kita, terbukti menjadi bantalan sosial yang luar biasa. Mereka mungkin terpuruk, tapi mereka tidak hancur total dan mampu beradaptasi dengan cepat.
- Kebijakan Cepat: Pemerintah merespons dengan program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), dan BI melakukan burden sharing yang tidak biasa untuk menopang APBN.
- Pelajaran: Pandemi membuktikan bahwa resiliensi kita juga ditopang oleh fleksibilitas sektor informal dan kemampuan adaptasi digital yang cepat.
Apa “DNA Tahan Banting” Ekonomi Indonesia Sebenarnya?
Melihat perjalanan empat dekade ini, resiliensi ekonomi Indonesia bukanlah sebuah kebetulan. Ia dibangun di atas beberapa pilar unik:
- Mesin Konsumsi Domestik yang Raksasa: Dengan 270 juta lebih penduduk, kita adalah pasar bagi diri kita sendiri. Ini adalah benteng pertahanan utama terhadap gejolak permintaan global.
- Bantalan Sektor Informal (UMKM): Sektor ini adalah “sistem kekebalan tubuh” kita. Ia mampu menyerap tenaga kerja dengan cepat saat sektor formal goyah.
- Kekayaan Sumber Daya Alam: Meskipun berisiko (Dutch Disease), tak bisa dipungkiri, saat krisis energi global melanda (seperti pasca-2022), status kita sebagai pengekspor komoditas (batu bara, CPO, nikel) justru menjadi “durian runtuh” yang menyelamatkan APBN.
- Pragmatisme Kebijakan: Sejarah membuktikan, para teknokrat kita, meskipun seringkali terlambat, pada akhirnya akan mengambil langkah pragmatis yang diperlukan untuk menyelamatkan kapal, sepahit apapun obatnya (deregulasi ’80-an, reformasi ’98, disiplin fiskal pasca-Covid).
Kesimpulan Perjalanan ekonomi Indonesia dari 1985 hingga 2025 adalah sebuah epik tentang bertahan hidup. Dari ketergantungan minyak, kehancuran moneter, krisis finansial global, hingga pandemi global, kita telah melalui semuanya.
Melihat kembali ke belakang membuat kita lebih percaya diri menatap tantangan di depan. Resiliensi atau “tahan banting” telah teruji berkali-kali. Namun, ini bukanlah alasan untuk berpuas diri. Karena sejarah juga mengajarkan satu hal: krisis berikutnya pasti akan datang, dalam bentuk yang tidak pernah kita duga sebelumnya.