Buru ‘Gajah’ Baru Demi Ketahanan Energi, Pertamina-Petronas Resmi Garap Blok Bobara
Rabu, 29 Oktober 2025, Jakarta – Sebuah aliansi strategis raksasa energi Asia Tenggara baru saja terbentuk, mengirimkan sinyal kuat tentang arah baru perburuan cadangan migas di kawasan Indonesia Timur. PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai ujung tombak subholding upstream Pertamina, secara resmi menggandeng Petronas Carigali, anak usaha perusahaan minyak dan gas nasional Malaysia, untuk bersama-sama menggarap Wilayah Kerja (WK) Bobara.
Penandatanganan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract – PSC) untuk blok yang terletak di perairan lepas pantai Papua Barat ini bukanlah sekadar berita bisnis biasa. Ini adalah sebuah manuver strategis yang menandai era baru kolaborasi antara dua National Oil Company (NOC) terbesar di Asia Tenggara untuk menaklukkan salah satu area paling menantang sekaligus paling prospektif di peta eksplorasi Indonesia.
Langkah ini dilihat oleh para pengamat sebagai sebuah babak baru yang krusial dalam upaya Indonesia untuk menemukan cadangan raksasa (giant discovery) demi menopang ketahanan energi nasional di masa depan. Menggandeng pemain sekaliber Petronas adalah bukti bahwa Pertamina kini bermain di liga global, siap berbagi risiko demi meraih imbal hasil yang sepadan.
Konteks Besar: Darurat Penemuan Cadangan Baru
Untuk memahami signifikansi dari kongsi ini, kita harus melihat gambaran besarnya. Indonesia sedang berpacu dengan waktu. Produksi minyak dan gas dari sumur-sumur tua terus mengalami penurunan alami. Di sisi lain, kebutuhan energi domestik terus meroket seiring pertumbuhan ekonomi. Tanpa penemuan cadangan baru yang signifikan, Indonesia berisiko menjadi importir energi neto permanen.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan sektor energi sebagai salah satu prioritas utama, dengan target ambisius untuk kembali meningkatkan produksi. Namun, menemukan “gajah” baru di industri migas bukanlah perkara mudah. Sebagian besar wilayah kerja yang mudah dijangkau sudah dieksplorasi. Harapan kini tertumpu pada area-area frontier atau perbatasan, seperti perairan dalam di Indonesia Timur, yang salah satunya adalah Blok Bobara.
Di sinilah letak permasalahannya: eksplorasi di laut dalam adalah bisnis yang padat modal, padat teknologi, dan berisiko sangat tinggi.
Blok Bobara: Pertaruhan Mahal di Area Frontier
Blok Bobara, yang dilelang oleh pemerintah melalui SKK Migas, bukanlah lapangan biasa. Terletak di perairan dalam, blok ini memiliki karakteristik yang membuatnya menjadi pertaruhan “segalanya atau tidak sama sekali” (high-risk, high-reward).
- Biaya Super Mahal: Satu sumur eksplorasi di laut dalam bisa menelan biaya lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun, dengan tingkat keberhasilan yang tidak pernah dijamin.
- Tantangan Teknologi: Dibutuhkan teknologi pengeboran canggih dan pengalaman operasional yang mumpuni untuk bisa menaklukkan kondisi geologis dan oseanografi di Papua Barat.
- Potensi Gas Raksasa: Meskipun berisiko, para ahli geologi meyakini bahwa cekungan-cekungan di Indonesia Timur menyimpan potensi gas alam dalam jumlah yang sangat besar, mirip dengan penemuan raksasa di Blok Masela.
Menghadapi tantangan sebesar ini sendirian adalah langkah yang sangat berisiko, bahkan untuk perusahaan sekelas Pertamina.
Logika di Balik Aliansi Pertamina-Petronas
Keputusan Pertamina untuk “berbagi panggung” dengan Petronas adalah sebuah langkah strategis yang sangat cerdas. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kematangan dalam manajemen risiko dan visi jangka panjang.
1. Berbagi Beban Risiko dan Biaya (Risk & Cost Sharing) Dengan membentuk konsorsium, beban biaya eksplorasi yang mencapai triliunan rupiah akan dibagi antara kedua belah pihak sesuai dengan hak partisipasi (participating interest) masing-masing. Jika eksplorasi gagal, kerugian akan ditanggung bersama. Jika berhasil, keuntungan juga akan dinikmati bersama.
2. Sinergi Teknologi dan Keahlian Ini adalah inti dari kemitraan. Pertamina, melalui PHE, memiliki pemahaman tak tertandingi mengenai data geologi dan potensi cekungan di wilayah Indonesia. Di sisi lain, Petronas adalah salah satu pemain global dengan rekam jejak paling impresif dalam operasi laut dalam (deepwater) di berbagai belahan dunia. Menggabungkan “pengetahuan lokal” Pertamina dengan “keahlian global” Petronas menciptakan sebuah tim impian untuk menaklukkan Blok Bobara.
3. Sinyal Geopolitik Regional Kolaborasi antara dua NOC terbesar di ASEAN ini juga mengirimkan pesan geopolitik yang penting. Ini menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara mampu dan mau bekerja sama untuk memastikan ketahanan energi regional, di tengah ketidakpastian pasokan energi global.
Apa Selanjutnya? Jalan Panjang Menuju Produksi
Penandatanganan PSC ini barulah awal dari sebuah perjalanan yang sangat panjang. Tahapan selanjutnya yang akan dilakukan konsorsium ini antara lain:
- Studi Geologi dan Geofisika (G&G): Melakukan survei seismik 3D untuk memetakan struktur bawah laut dan mengidentifikasi titik-titik prospek.
- Pengeboran Sumur Eksplorasi: Ini adalah tahap paling kritis dan paling mahal untuk membuktikan apakah benar ada cadangan migas di sana.
- Rencana Pengembangan (Plan of Development – POD): Jika cadangan ditemukan dan terbukti komersial, barulah mereka akan menyusun rencana pengembangan fasilitas produksi, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun lagi.
Dari penandatanganan kontrak hingga tetes minyak atau gas pertama mengalir, prosesnya bisa memakan waktu satu dekade atau lebih.
Kesimpulan Aliansi antara Pertamina dan Petronas untuk menggarap Blok Bobara adalah lebih dari sekadar kesepakatan bisnis. Ini adalah sebuah pertaruhan strategis atas masa depan energi Indonesia. Ini adalah bukti bahwa untuk memenangkan permainan besar, kolaborasi seringkali lebih kuat daripada kompetisi.
Bagi Pertamina, ini adalah langkah untuk naik kelas, belajar dari yang terbaik, sambil tetap memegang kendali atas sumber daya alam di negeri sendiri. Bagi Indonesia, ini adalah secercah harapan baru dalam upaya menemukan cadangan energi raksasa yang akan menopang pembangunan bangsa hingga beberapa dekade mendatang. Mata industri kini tertuju ke timur, menanti kabar baik dari kedalaman laut Bobara.