Transisi Energi & Belanja Infrastruktur Kerek Harga Logam Dasar ke Rekor Tertinggi
Selasa, 21 Oktober 2025, Jakarta – Di tengah riuh rendahnya pasar saham yang dipenuhi oleh hiruk pikuk saham teknologi dan fluktuasi mata uang kripto, ada satu sektor yang bergerak nyaris tanpa suara namun menghasilkan keuntungan paling fenomenal sepanjang tahun 2025. Sektor itu adalah urat nadi dari peradaban industri modern: logam dasar.
Lupakan sejenak narasi tentang valuasi startup atau prospek kecerdasan buatan. Tahun ini, panggung utama direbut kembali oleh para pemain “ekonomi lama” yang fundamental. Tembaga, nikel, timah, dan aluminium—komoditas yang sering dianggap membosankan—justru menggelar pesta pora keuntungan yang membuat banyak manajer investasi global tersenyum lebar.
Bagi mereka yang jeli, 2025 telah menjadi tahun paling cuan dalam satu dekade terakhir untuk berinvestasi di pasar logam dasar. Harga-harga komoditas ini melesat, menembus rekor-rekor tertinggi, dan menyeret saham-saham emiten pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ke level yang sebelumnya tak terbayangkan.
Lantas, apa yang menjadi bahan bakar utama dari reli super ini? Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari sebuah “badai sempurna” di mana permintaan masif bertemu dengan pasokan yang terbatas. Mari kita bedah resep rahasia di balik tahun keemasan pasar logam dasar.
The Perfect Storm: Tiga Mesin Penggerak Reli Harga
Reli fantastis di pasar logam dasar tahun ini tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh konvergensi tiga kekuatan makroekonomi global yang saling memperkuat.
1. Revolusi Hijau yang Tak Terbendung Ini adalah mesin penggerak utama dan yang paling fundamental. Transisi energi global dari bahan bakar fosil ke energi bersih (green energy) ternyata membutuhkan logam dasar dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
- Kendaraan Listrik (EV): Setiap unit mobil listrik membutuhkan tembaga empat kali lebih banyak daripada mobil konvensional (untuk kabel, motor, dan baterai). Di saat yang sama, baterai EV adalah “pemakan” nikel kelas satu yang rakus.
- Infrastruktur Energi Terbarukan: Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan tenaga angin (PLTB) membutuhkan ribuan ton aluminium untuk panel dan turbinnya, serta jaringan kabel tembaga yang masif untuk mendistribusikan listriknya.
Pemerintah di seluruh dunia, dari Tiongkok hingga Amerika dan Eropa, menggelontorkan triliunan dolar untuk subsidi dan insentif di sektor ini. Hasilnya? Permintaan terhadap tembaga dan nikel meledak, jauh melampaui prediksi para analis di awal tahun.
2. Ledakan Belanja Infrastruktur Global Dunia sedang membangun kembali. Proyek-proyek infrastruktur raksasa yang sempat tertunda akibat perlambatan ekonomi beberapa tahun lalu, kini dieksekusi secara serentak. Amerika Serikat dengan Infrastructure Investment and Jobs Act, Tiongkok dengan proyek Belt and Road Initiative-nya, hingga proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Indonesia, semuanya membutuhkan bahan baku yang sama.
- Baja (yang membutuhkan nikel sebagai campuran), aluminium untuk konstruksi ringan, dan tembaga untuk sistem kelistrikan menjadi komoditas yang paling dicari. Permintaan dari sektor konstruksi dan manufaktur ini menciptakan lapisan permintaan kedua yang solid di atas permintaan dari sektor energi hijau.
3. Sisi Pasokan yang Tertekan (Supply Squeeze) Di saat permintaan melonjak, sisi penawaran justru menghadapi berbagai tantangan.
- Investasi Rendah di Masa Lalu: Selama bertahun-tahun, harga komoditas yang rendah membuat perusahaan tambang enggan berinvestasi besar-besaran untuk membuka tambang baru. Kini, saat permintaan meroket, mereka tidak bisa serta-merta meningkatkan produksi. Membuka tambang baru membutuhkan waktu 5-10 tahun.
- Tantangan Geopolitik & Perubahan Iklim: Gangguan produksi di beberapa negara produsen utama di Amerika Selatan (untuk tembaga) dan kebijakan hilirisasi yang ketat di Indonesia (untuk nikel) turut membatasi pasokan bahan mentah ke pasar global.
Kombinasi dari permintaan yang meledak dan pasokan yang kaku inilah yang menciptakan resep sempurna untuk lonjakan harga yang kita saksikan sepanjang tahun 2025.
Para Primadona: Tembaga dan Nikel Pimpin Pesta
Di antara semua logam dasar, dua komoditas tampil sebagai bintang utama.
- Tembaga (Copper): Dijuluki “Dr. Copper” karena kemampuannya memprediksi kesehatan ekonomi global, tembaga menjadi primadona utama. Perannya yang sentral dalam elektrifikasi membuatnya menjadi komoditas paling strategis di abad ke-21. Harganya yang terus mencetak rekor baru menjadi cerminan dari optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi dan transisi energi.
- Nikel (Nickel): Jika tembaga adalah raja elektrifikasi, maka nikel adalah pangeran di kerajaan baterai kendaraan listrik. Permintaan nikel kelas satu (untuk baterai) tumbuh secara eksponensial. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, menjadi pusat perhatian. Kebijakan pemerintah untuk mendorong hilirisasi—memproses bijih nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti stainless steel dan prekursor baterai—terbukti sangat efektif dalam meningkatkan nilai ekspor dan menarik investasi asing.
Implikasi bagi Investor di Bursa Efek Indonesia
Fenomena global ini tentu berdampak langsung pada emiten-emiten pertambangan yang melantai di BEI. Saham-saham perusahaan yang fokus pada produksi nikel, tembaga, dan timah mengalami kenaikan signifikan. Para investor yang masuk di awal tahun kini menikmati keuntungan berlipat ganda.
Bagi yang belum masuk, pertanyaannya adalah: apakah pesta ini sudah berakhir?
Jawaban singkatnya: mungkin belum. Meskipun koreksi harga jangka pendek selalu mungkin terjadi, tren fundamental yang mendorong reli ini—terutama transisi energi hijau—adalah tren jangka panjang yang akan berlangsung selama beberapa dekade.
Kesimpulan Tahun 2025 akan dikenang sebagai tahun di mana pasar akhirnya menyadari bahwa masa depan yang hijau dan terhubung secara digital ternyata dibangun di atas fondasi yang sangat konvensional: logam dasar. Ini bukan lagi cerita tentang komoditas tua yang membosankan, melainkan tentang bahan baku krusial untuk revolusi industri berikutnya.
Bagi para investor dan pelaku pasar, pesan yang dikirimkan sangat jelas. Di tengah dunia yang terus berubah, aset-aset fundamental yang menjadi tulang punggung peradaban akan selalu menemukan jalannya untuk kembali bersinar. Dan tahun ini, sinarnya begitu terang benderang.